Usai Lebaran, Banyak Janda di Grobogan

Janda 2

Grobogan – Jumlah perkara perceraian yang didaftarkan di Pengadilan Agama (PA) Puwodadi usai libur lebaran, membludak. kasus perceraian di Grobogan, Jawa Tengah banyak mendapatkan perhatian. Momen lebaran menjadi kesempatan bagi warga Grobogan, Jawa Tengah untuk pulang dari perantauan ke kampung halaman. Tak hanya itu kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk mengurus perceraian di pengadilan agama, praktis banyak ibu muda yang akhirnya menjadi janda usai lebaran.
Momen lebaran selalu menjadi momen indah bagi yang merayakannya, selain bisa saling memaafkan, lebaran juga bisa digunakan untuk berkumpul dengan keluarga. Banyak yang pulang ke kampung halaman, karena tidak ingin melewatkan momen lebaran bersama keluarga. Namun kesempatan pulang ke kampung halaman tidak hanya digunakan untuk bersilahturahmi dan berkumpul dengan keluarga, melainkan banyak yang memanfaatkannya untuk mengurus perceraian di pengadilan agama.

Sedikitnya dalam tiga hari terakhir, setelah libur lebaran, sudah ada 105 warga yang mengajukan proses cerai di pengadilan agama Purwodadi. Jumlah tersebut cukup banyak jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, selama satu bulan, pada bulan Juni, hanya ada 91 warga yang mengajukan proses cerai, diprediksi angka tersebut akan semakin meningkat hingga berakhirnya bulan Juli.

Humas PA Purwodadi Ahmad Zuhdi, menyebutkan, saat hari pertama masuk kerja usai libur lebaran Idul Fitri pada Senin (3/7), jumlah perkara perceraian yang diajukan di PA Purwodadi mencapai 105 perkara.

“Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan hari biasa,” ujar Ahmad, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (6/7).

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap usai lebaran selalu ada tren kenaikan angka perceraian. Seiring dengan banyaknya warga Grobogan yang pulang kampung dari perantauan.

Sementara itu, menurut Yunita, pengacara yang sering mendampingi kasus perceraian di PA Purwodadi. Kasus perceraian rata-rata dipicu permasalahan ekonomi. Banyakyang merantau ke luar kota dan luar negeri. Namun tidak banyak uang yang dikirimkan kepada pasangannya di kampung halaman, sehingga menimbulkan permasalahan.

“Dari jumlah itu, cerai masalah ekonomi lebih besar jika disbanding dengan KDRT” ungkap Yunita Kamis (6/7).

Yunita menyatakan, faktor penyebab perceraian selama ini berupa ekonomi, murtad, kawin paksa, perselisihan dan pertengkaran terus menerus, cacat badan, kekerasan dalam ruamh tangga (KDRT), poligami, meninggalkan salah satu pihak, judi dan mabuk. Namun, dari semua faktor itu, terbanyak merupakan faktor ekonomi. Praktis tingginya angka perceraian membuat kabupaten grobogan dihiasi banyak janda muda, rata-rata mereka berumur 20 hingga 40 tahun. #Gilang

  • Share on Tumblr

Related posts

Leave a Comment