Politeknik Kesehatan Sukoharjo Galang dana Untuk disumbangkan korban Banjir Wonogiri

Wonogiri – Hujan deras yang terjadi pada tanggal 27 November 2017 selama lebih dari 14 jam yang mengguyur daerah wonogiri dan sekitarnya telah menyebabkan berbagai daerah mengalami bencana banjir dan tanah longsor. Tak ayal dengan kejadian ini banyak para relawan dan donatur yang tergerak hatinya untuk ikut andil dalam penanggulangan bencana tesebut. Salah satunya adalah Poltekkes Bhakti Mulia yang ikut andil dalam pemberian bantuan. Beberapa mahasiswanya yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa Prodi terlibat dalam penggalangan dana yang dilakukan selama 3 hari terhitung dari hari jumat – minggu, 1- 3 Desember 2017. Penggalangan dana tersebut dilakukan untuk para korban bencana alam di Tirtomoyo, Wonogiri tepatnya di daerah Hargosari yang merupakan daerah terdampak longsor yang cukup parah.
Penggalangan dana pada hari pertama dilakukan di berbagai pasar besar di daerah Sukoharjo dan sekitarnya, lalu pada hari kedua sampai terakhir dilanjutkan di trafict light di sepanjang jalan Solo – Sukoharjo. Dari hasil penggalangan dana selama tiga hari tersebut terkumpul dana lebih dari 10 juta. Uang yang terkumpul tersebut tidak langsung disalurkan tetapi akan di berikan dalam bentuk bahan kebutuhan pokok. Poltekkes Bhakti Mulia juga bekerja sama dengan Rumah Sakit Nirmala Suri dalam pemberian pengobatan gratis kepada para pengungsi.
Dalam aplikasinya dana tersebut disalurkan dalam bentuk paket sembako yang berisi kebutuhan pokok seperti, beras, minyak, gula, teh dan mie instan. Poltekkes Bhakti Mulia Sukoharjo menyiapkan 120 paket sembako untuk para korban bencana tersebut dan untuk mengetahui kondisi warga pasca bencana tersebut diadakan pula cek up beserta pengobatan gratis.
Bantuan tersebut disalurkan pada Rabu, 6 Desember 2017 ke daerah Hargosari, Tirtomoyo, Wonogiri. Pemilihan penyaluran ke daerah tersebut karena daerah tersebut terdampak longsor yang lumayan dan juga masih belum banyaknya bantuan yang datang ke daerah tersebut. Yang menyebabkan belum banyaknya bantuan karena akses jalan yang yang sulit dan juga kontur tanah berupa pegunungan dan batuan sehingga menyebabkan sulit dilalui kendaraan yang besar untuk mengangkut logitik. Rombongan Poltekkes Bhakti Mulia sejumlah 32 orang yang terdiri dari 5 dosen, 2 orang pembawa logistic, 24 mahasiswa, dan seorang dokter. Rombongan Poltekkes Bhakti Mulia tiba di posko induk sekitar pukul 12.00 WIB dan di sambut oleh lurah desa setempat.
Menurut data yang diperoleh dari Kepala Desa Hargosari, Daerah Hargosari sendiri terdapat 11 dusun yang terdampak tanah longsor dengan total 738 jiwa, dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 208 KK, laki-laki 370 orang, perempuan 368 orang, difabel 2 orang serta balita sebanyak 35. Untuk rumah yang rusak sendiri terdapat 99 rumah rusak, dan 5 rumah yang rata dengan tanah. Sebelas dusun yang terdampak longsor tersebut adalah Sengon terdapat 12 KK dengan total jiwa 61 dan rumah yang rusak 3, Pagersari terdapat 6 KK dengan total 24 jiwa serta terdapat 1 rumah rusak, Jalakan terdapat 12 KK dengan total jiwa 48 serta terdapat rumah rusak 4, Plumbon terdapat 20 KK dengan total jiwa 80 serta terdapat 5 rumah rusak, Pundung terdapat 8 KK dengan total jiwa 30 serta terdapat 5 rumah rusak, Sogo terdapat 25 KK dengan total jiwa 113 dan terdapat 7 rumah rusak, Jajar terdapat 18 KK dengan total jiwa 51 serta terdapat 20 rumah rusak dan 2 rata dengan tanah, Beji terdapat 36 KK dengan total jiwa 134 serta terdapat 23 rumah rusak dan 2 rata dengan tanah, Watu Gede terdapat 50 KK dengan total jiwa 105 dengan rumah rusak 23 dan 1 rumah rata dengan tanah, Sedeng terdapat 18 KK dengn total jiwa 88 dan terdapat 3 rumah rusak, dan yang terakhir Watulimo terdapat 3 KK dengan total jiwa 12. Untuk daerah terdampak longsor yang paling parah ada 3 yaitu, Jajar, Beji, dan Watu Gede.
Dari banyaknya derah yang terdampak longsor tersebut, perangkat desa dan dibantu dengan SAR Wonogiri mendirikan 5 posko pegungsian dengan posko induk di Balai Desa Hargosari. Empat posko lainnya terdapat di rumah RW Pugersari 85 Jiwa, rumah RW Jalakan 48 jiwa, Masjid Plumbon 80 jiwa, dan rumah Bapak Sriyono Sedeng 90 jiwa. Di Posko induk sendiri terdapat 435 pengungsi yang masih bertahan di sana terhitung sejak Rabu, 29 November 2017 sampai saat ini. Fasilitas yang terdapat di posko sendiri berupa, kamar mandi umum dan dapur umum dan tempat tidur yang sederhana. Untuk makanan sendiri para warga swadaya untuk masak bersama sama.
Bantuan terus berdatangan dari berbagai penjuru, kebanyakan bantuan yang datang berupa bahan kebutuhan pokok, peralatan mandi, selimut, alat tulis, seragam sekolah, alat tulis dan perlengkapan balita, sedang untuk bantuan yang masih kurang adalah belum adanya bantal. Untuk obat obatan sendiri merupakan pemberian dari dinas kesehatan dan para donatur. Kebanyakan keluhan yang dirasakan warga setelah pemeriksaan gratis berupa darah tinggi, sakit mata, gatal , batuk pilek, nyeri perut dan sebagainya.
Selama dalam pengungsian siang harinya warga masih beraktifitas seperti biasa kembali ke rumah masing masing untuk menyelamatkan barang yang bisa di selamatkan dan bergotong royong untuk memperbaiki rumah yang masih layak untuk dihuni. Sedang malam harinya mereka kembali ke pengungsian karena masih di takutkan terjadi bencana longsor susulan. Dari bencana longsor tersebut tidak terdapat korban jiwa tetapi banyak hewan ternak yang mati akibat terkena longsor. Dari bencana tersebut ditafsir banyak kerugian materi tetapi bagi para warga keselamatan jiwa dan keluarganya jauh lebih penting dari apapun, bagi mereka materi dapat dicari dengan jalan apapun. #rolita

 

0Shares

Related posts

Leave a Comment