IPTU Subarkah Wakapolsek Jatipuro Yang mendalami Ilmu Komputer

Iptu Subarkah, S.Kom  lahir di Pemalang, 26 April 1965 adalah Waka Polsek Polisi. Jatipuro Polres Karanganyar. Subarkah merupakan lulusan Sekolah Dasar di sebuah perkampungan di Pemalang, menginjak usia remaja kemudian keluarganya hijrah ke Pekalongan lalu beliau memutuskan untuk bersekolah di sebuah MTS Negeri di Pekalongan. Lalu melanjutkan Pendidikan Menengah Atas di Sekolah Pendidikan Guru Agama kemudian setelah lulus mendaftar menjadi seorang polisi. Beliau juga merupakan lulusan Sarjana Komputer Univeritas Surakarta.

Iptu Subarkah, S.Kom tinggal di Perumahan Lalung Permai Karanganyar bersama seorang istri yang merupakan rekan satu angkatan saat sekolah dahulu, dari pernikahan tersebut telah dikaruniai dua orang anak yang kesemuanya telah menyelesaikan pendidikannya dan salah satu putranya telah berkeluarga

Menjadi seorang polisi pada awalnya bukanlah cita citanya, mengingat latar belakang pendidikannya yang seorang guru agama ditambah lagi persyaraan masuk anggota polisi adalah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Umum, sedang beliau dari Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Khusus, tetapi seiring berjalannya waktu mindset beliau berubah. Pola pikir yang terpaku pada pakem Ia hilangkan dan disitulah Ia ingin  membuktikan bahwa perbedaan bukanlah suatu halangan untuk meraih impian. Jiwanya terpanggil karena terinspirasi dari seorang Jendral yang bernama Subarkah yang jasanya begitu berpengaruh pada saat itu, sehingga namanya dijadikan nama dari monument monument penting di beberapa kepolisian. Salah satunya di SPN Purwokerto terdapat sebuah gedung induk yang diberi nama Graha Subarkah, dan juga di Akpol terdapat sebuah gedung yang diberi nama  Ghara Subarkah. Hal tersebutlah yang membulatkan tekatnya untuk mendaftar Kepolisian.

Pada awalnya keluarga mempertanyakan keputusannya masuk polisi karena latar belakang pendidikan dan juga lingkungan keluarga yang begitu agamis. Pada dasarnya keluarga mengiginkannya untuk menjadi seorang guru karena dari semua saudaranya yang menjadi guru. Beliau mencoba untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba menjadi polisi yang memang notabene asing bagi keluarganya. Namun beliau tidak putus asa dalam meyakinkan keluarganya bahwa menjadi guru tidak melulu mengajar di dalam kelas, tetapi guru yang sejati mengabdi di segala situasi dan keadaan apapun. Hal inilah yang membuat luluh hati ibu beliau dan akhirnya mendukung keputusannya menjadi seorang polisi. Restu sang ibunda inilah yang akhirnya menghantarkan beliau lolos seleksi masuk kepolisian.

Baginya ujian terberat dalam seleksi masuk Kepolisian adalah banyaknya antusiasme  pendaftar dari kalangan SLTA umum, namun baginya pantang untuk mundur sebelum berperang selagi persaingan itu sesuai dengan Standar Operasional Prosedur. Berkat kerja keras, kegigihan dan doa dari orang tuanya yang disini hanya tinggal ibunda tercinta saja karena sang ayah telah mendahului menghadap Ilahi akhirnya Ia bisa lolos seleksi masuk Kepolisian.

Awal menjadi polisi merupakan masa terberat bagi beliau karena semua yang ada di sekitarnya serba baru dan perlu beradaptasi, jam terbang yang masih sedikit  dan juga pengalaman yang masih mumpuni juga merupakan kendala baginya. Bimbingan dan praktek di lapangan merupakan sekolah yang nyata baginya. Beliau merupakan orang yang tidak puas apabila hanya mendapatkan teori di kelas tetapi harus mengaplikasikan teori tersebut di dalam kehidupan nyata. Hal inilah yang mendorong beliau menjadi seperti sekarang ini.

Bagi beliau harapan yang belum tercapai adalah masyarakat terbangun secara fisik dan non fisik.  Pembangunan fisik sendiri meliputi sarana dan prasarana pemerintahan seperti, jalan, jembatan, pertanian dan irigasi. Sedang pembangunan non fisik meliputi pembangunan manusia, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Baginya apabila masyarakat terbangun secara fisik dan non fisik maka dapat dipastikan tidak akan ada gangguan gangguan dalam masyarakat. Masyarakat sendiri juga akan lebih terkontrol apabila dari segi ekonomi terpenuhi dengan baik. Karena seperti yang kita ketahui bersama sumber utama dari segala pelanggaran di masyarakat pada dasarnya adalah masalah perekonomian. sebagai contoh, pencurian, pencopetan penjambretan dan segala macamnya tidak akan terjadi bila ekonomi masyarakat berkembang dengan pesat. Dan hal tersebut yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan masyarakat pada umumnya untuk menata pembangunan baik secara fisik atau non fisik. #rlt

  • Share on Tumblr

Related posts

Leave a Comment